Take Over KPR, Cermati dan Lakukan Hal ini Sebelum Perjanjian Disepakati

Take over KPR
Take over KPR

Ketika seseorang membeli rumah menggunakan program KPR, namun tiba-tiba mengalami kesulitan atau memiliki kebutuhan lain yang lebih mendesak, apakah cicilan tersebut dapat dipindah tangankan?

Hal tersebut tenyata dapat dilakukan dengan cara take over KPR atau mengambil alih kredit rumah yang masih dan sedang berjalan.

Take over ini merupakan salah satu metode pembelian rumah, yang memiliki kecenderungan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pembelian secara langsung.

Proses take over KPR ini biasanya disebabkan karena debitur atau pemilik rumah akan menjual atau oper kredit lantaran tengah membutuhkan uang cash dalam waktu cepat.

Pihak perbankan pun tidak mempermasalahkan metode ini. Bahkan take over KPR dipandang menjadi salah satu lahan yang lebih prospektif lantaran dapat menghindari kemungkinan kredit macet ataupun pembayaran cicilan yang telat oleh debitur.

Pihak bank yang membiayai pembangunan rumah tersebut, biasanya akan memberikan kemudahan proses oper kontrak cicilan, terutama bagi nasabah yang dinilai bankable atau terpercaya untuk dapat melanjutkan proses pembayaran KPR dari debitur sebelumnya.

Namun sebelum menyepakati perjanjian take over KPR, perlu dipastikan beberapa hal terlebih dahulu, terutama terkait dengan nilai transaksi properti atau rumah yang akan dipindahtangankan. Adapun nilai transaksi yang harus dicermati terlebih dulu yakni:

  1. Nilai jual rumah
  2. Besaran saldo utang pokok
  3. Sisa cicilan kredit yang harus dibayar

Selain masalah biaya, ada hal lain yang juga tak boleh luput dari perhatian saat akan take over KPR.

Anda harus memastikan beberapa hal sebelum melakukan take over KPR ini, mulai dari kecocokan desain bangunan, legalitas atau surat-surat dari rumah yang akan dijual, hingga riwayat pembayaran KPR pemilik lama. Berikut rincian hal yang harus diperhatikan:

Kondisi fisik

Hal terpenting dalam membeli over kredit rumah adalah memerhatikan kondisi fisik sebuah properti. Anda harus mencermati secara detail bagian luar dan dalam rumah. Periksa kondisi dinding, lantai, saluran air, kayu jendela dan pintu, langit-langit, serta bukaan dan sirkulasi udara.

Perhatikan juga segi lokasi dan posisi rumah, apakah lokasi rumah tersebut rawan banjir atau longsor ataukah sedang dalam sengketa. Bisa saja, alasan pemilik mengalihkan cicilan rumahnya adalah karena lokasi yang kurang bagus, rawan banjir, dan prospek yang tidak menguntungkan.

Periksa dokumen

Setelah pengecekan fisik, Anda dapat melakukan pengecekan dokumen Kredit Pemilikan Rumah asli, yang biasanya masih tersimpan di bank.

Pastikan keabsahan kepemilikan rumah, jika ditemukan permasalahan ataupun sengketa, lebih baik batalkan keinginan untuk take over KPR tersebut.

Pembuatan surat pengikatan

Anda perlu membuat Akta Pengikatan Jual-Beli atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan dengan pihak penjual. Bukan hanya itu saja, Surat Kuasa untuk melunasi sisa angsuran dan kuasa untuk mengambil sertifikat juga harus dipersipakan. Hal ini diperlukan untuk menjaga keamanan dari proses take over KPR.

Penjual kemudian membuat surat pemberitahuan kepada bank perihal peralihan hak atas tanah dan bangunan.

Inti surat tersebut adalah “meski angsuran dan sertifikat masih atas nama penjual, tetapi haknya sudah beralih kepada pembeli. Oleh sebab itu maka penjual tidak berhak lagi untuk melunasi dan mengambil sertifikat asli setelah KPR dilunasi.” *

Perumahan kami

Tjokroningrat Residence

Hara Residence

Taman Ayom Sedayu

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mohon mengisi form dibawah ini dulu

File akan terserdia sekitar 30 detik setelah anda mengisi form dibawah.

    Budget anda untuk membeli rumah: